Friday, October 16, 2009

BAGIKU...


bagi mereka mungkin kau bukan bunga yang menebar wangi...
tapi bagiku kaulah aroma harum yang mengalir di setiap nafasku

bagi mereka mungkin kau tak seputih kapas...
tapi bagiku kaulah rajutan benang putih yang menghangatkan tubuhku

bagi mereka mungkin kau tak secantik rembulan...
tapi bagiku kaulah terang yang menyinari setiap langkahku

bagi mereka mungkin kau bukanlah sesuatu yang berarti...
tapi bagiku kaulah pena pujangga yang jadikan aku puisi terindah

bagi mereka mungkin kau bukanlah yang sempurna...
tapi tuhan menciptakan aku tuk menyempurnakanmu

(untuk seseorang yang kukasihi...)

Tuesday, October 06, 2009

KAU MASIH YANG TERCANTIK...


sorot mata itu masih saja menyiratkan kesedihan
raut muka keriput itu masih saja menyimpan berjuta penderitaan
namun saat melihat sosokku di hadapannya
semburat kebahagiaan terpancar
binar rasa rindu tampak nyata dari senyumnya yang mengembang
seperti kerinduan seorang ibu pada anaknya yang telah bertahun-tahun menghilang

sejenak aku terpana tak tahu apa yang mesti kulakukan
sosok di hadapanku itu semakin renta
keriput wajahnya semakin tampak nyata
mengguratkan berjuta penderitaan yang tak kunjung sirna
sesaat mata ini kabur tak lagi mampu menggambarkan wajahnya
terhalang tirai air mata yang tak kusadar mulai menggenang

terkesiap aku oleh lamunan yang tak pernah aku lakukan sebelumnya
aku dengar suara yang sudah tak lagi bisa aku kenali
bukan karena telingaku yang tak mampu lagi mendengar
bukan pula karena pikiranku yang sejak tadi melayang entah kemana
tapi suara itu benar-benar tak lagi jelas kudengar
namun kalimat yang sama terus meluncur lembut dari bibirnya yang bergetar
berulang-ulang...
kucoba mencerna kalimat apa yang luput aku telaah artinya
setelah sekian lama terulang kalimat itupun mampu kudengar dengan nyata

kowe sapa le?
kowe sapa le?
kowe sapa le?


ya ALLOH..... ibuku tak lagi mengenaliku
bukan karena rasa sayangnya tlah hilang atas diriku
kerentaan dan penderitaan tlah menggerogoti ingatannya
kalimat itupun tak begitu jelas kudengar
lagi-lagi kudekatkan telingaku di bibirnya yang semakin bergetar

ya ALLOH, kenapa dengan suara ibuku?
kenapa kau ambil suara indah ibuku yang dulu setiap malam meninabobokan aku
dengan tembang pangkur kesukaanku?
kusaksikan ibu tak lagi bisa berbicara dengan jelas
bagai seorang anak kecil yang bau saja belajar berkata-kata

tak kuasa air mata ini kembali deras mengalir
kerengkuh tangan ibu
kucium lekat tangan yang dulu memandikan aku dengan penuh kasih sayang
sempat kulihat dari balik tirai air mata yang terus mengalir dari mataku
guratan kerentaan yang menghias tangan lembut itu
ya ALLOH...
itukah tangan yang dulu mengelus kepalaku tiap malam saat menidurkan aku?
itukah tangan yang mengaduk masakan sayur asam kesukaanku?
kenapa sekarang tak kokoh lagi?
kenapa sekarang senantiasa bergetar?
tak kuasa aku hadirkan rasa kasihan dalam benakku
kurengkuh tubuh renta itu
kupeluk erat dengan kedua tanganku

iku aku bu, widodo...
anak lanangmu sing bagus dewe
aku sing sowan
kadara rasa kangenku marang ibu
saiki aku neng kene bu....


kini tak kuasa lagi kubendung air mata yang kembali deras mengalir
membasahi pundak ibu yang dulu tak lelah menggendong aku bila menangis
dan kini ibu memundurkan kepalanya
memandang diriku yang tak lagi berupa karena basah air mata
dia kernyitkan dahinya
sejenak ibu seperti berpikir dan mengurai kenangan
menggambarkan wajah anak-anaknya melalui mata telanjang

dan begitu kernyitan dahi itu menghilang
suara parau kembali terdengar menyisakan kepedihan yang kembali mengiris
suara yang tak begitu jelas kudengar
tapi kutahu pasti arti yang tersimpan

oalah le.... kowe bali
kowe neng kene
le, anakku sing bagus dewe
aja mbok tinggal maneh ibumu sing wis tuwa iki yo
lilanana aku urip seneng ya le....
lilanana aku nggayuh urip mulya ing sisaning umurku


duh ibu....
sampun penjenengan ngendika mekaten
sampun mundhut palilah kula pikantuk kanugrahan gesang
karana kedahipun kula ingkang caos kamulyan dumateng penjenengan
kula ingkang lepat, ibu...
kula ingkang supe kaliyan penjenengan amargi pakaryan ingkang kula ayahi
duh ibu...
keparenga kula matur ing ngarsa penjenengan
sineksen sagunging malaikat ALLOH
lan muhammad rasullulloh
dene kula tansah ngabekti dumateng penjenengan selaminipun
tan adamel dosa ingkang penjengan tuturaken duk rikala samangke
mugi dadosa kula anak penjenengan ingkang sholeh

oalah le..... sawangen saiki ibumu
ibumu saiki wis kempong peot ora duwe untu
ibumu wis ora kuwat maneh nggendong awakmu
ibumu wis ora ayu maneh kaya biyen le....


bergetar kupotong kat-kata ibu
tidak ibu!!!!!!!
karena bagiku kau tetaplah ibuku yang paling cantik

ya ALLOH...
hanya satu kini yang kupinta dariMU
ijinkan ibu bahagia dalam jalanMU
dan menimang cucunya dari rahim istriku...

ya ALLOH...
kabulkan doaku

Thursday, September 10, 2009

LANGKAHKU KINI...


duh gusti...
rumaos ayem tentrem manah kawula samangke
tatkala sinarMu menarangi setiap langkahku

duh gusti...
sun tansah eling duk rikala nyelaki kasunyatan urip
namun diriMU tak pernah memarahiku

duh gusti...
gunging panuwun sun ngarsake mring paduka
dene wus peparing sunaring margi bebener

duh gusti...
moga kearifan pikir dan ketenangan hati
senantiasa bersemayam dalam jiwa ini
tuh tapaki langkahku esok hari

Monday, September 07, 2009

TAK LAGI TERBELENGGU...


ya rob...
kini kau tunjukkan aku warnanya
kini tlah kau tunjukkan aku hitamnya
kini tlah kau tunjukkan aku pula kelamnya

terima kasih, ya rob...
kau pisahkan putihku dari hitamnya
kau pisahkan terangku dari kelamnya

sekian lama sudah ku terkungkung gelap
sekian lama sudah ku terbelenggu pekat
sekian lama sudah ku terpasung kuat

kini ku sendiri menatap awang
tengadah menantang petang
songsong fajar terang

ya rob...
jaga selalu terang di hatiku
jangan pernah lagi hadirkan dia
yang kan gelapkan jiwaku

ya rob...
amin

Sunday, September 06, 2009

BUNDA, MAAFKAN AKU...


bunda....
lagu ini kupersembahkan untukmu
mengiringi surat ini yang kutulis dengan pena hati bertintakan air mata
kutitipkan rasa rindu yang tak lagi bercawan
maafkan anakmu ini bunda
yang tak pernah mampu membahagiaankanmu
mendekap erat tubuh rentamu di setiap desahan nafasku
maafkan pula anakmu ini yang tak kunjung menjumpaimu
karena tak kuasa menahan sedih bila harus bertemu dirimu
maafkan aku, bunda...

IJINKAN AKU MELUPAKANNYA...


ya rob...
kenapa tak kau biarkan aku sendiri?
merenungi jati diri yang terkoyak oleh rasa perih

ya rob...
kenapa masih juga kau biarkan dia menabur luka?
dengan sayatan sembilu yang makin dihujamkannya

ya rob...
tlah kutrima rasa pedih di hati hamba
tapi kenapa masih saja ada luka yang ditanamkannya?

ya rob...
tak cukupkah dendam terbingkai rapat di hatinya?
haruskah umbar tawanya menggema menembus raga?
atau inikah yang hendak dimauinya?
menatap diriku bersimbah darah mengaliri luka

ya rob...
tolong cukupkan sudah
perih yang kian hari kian tertatah
bagai dedaunan kering tanpa pelepah
menanti maaf darinya bersimpuh pasrah

ya rob...
kuinginkan dia bahagia
dengan siapapun yang didambanya
tanpa harus menyebar perih di luka yang kian menganga

ya rob...
hapuskan bayangnya dari anganku
biar kusandang lara ini sendiri berselimut pilu

ya rob...
tak kuasa kulupakan dia
meski sakit terasa bila mengenangnya
karna sembilu yang masih tetap ada di tangannya
yang siap menyayat perih luka di sekujur raga

ya rob...
hanya padamu aku bersimpuh
beri jalan pada diriku yang semakin rapuh
tuk lupakan semua rasa yang pernah berlabuh

ya rob...
ijinkan akumelupakannya
meski kutahu bagai menyulam angin kembara

ya rob...
ijinkan aku

Saturday, September 05, 2009

YANG TERTINGGAL...


kini usai sudah...
yang tersisa hanyalah perih

kini usai sudah...
yang tertinggal hanyalah kesendirian

KESENDIRIANKU...


tiga minggu sudah tak kulihat senyum manisnya
tiga minggu sudah tak lagi kumanjakan dia
tiga minggu sudah ku tak bersamanya

kini tak kutahu dimana dia
kini tak kutahu apa yang dia rasa
kini tak kutahu siapa bersamanya

yang kutahu hanya rindu yang ada di dada
yang kutahu hanya cinta yang tetap ada
yang kutahu hanya sayangku padanya

tak lagikah dia ingin tahu yang aku rasa?
tak lagikah dia ingin tahu siapa yang senantiasa kupuja?
tak lagikah dia ingin tahu betapa menderitanya diriku tanpanya?

tuhan,
andai kau beri aku cara
yang mampu memutar masa....

Tuesday, September 01, 2009

KATA YANG TAK TERUCAP... (SESAL)


bila kata terlarang tuk diucap
bila tanya tak lagi terjawab
masihkah dua hati bisa terikat?

kini asa tak lagi ada
meski harap senantiasa nyata
karna tak lagi bisa kulihat senyumnya
hanya paras indah yang sarat murka

kasih,
tak lagikah ada rasa sayang?
tak lagikah ada yang bisa dikenang?
haruskah semua sirna tinggal bayang?

tuhan,
bila kau nyata ada di benaknya
ijinkan aku kembali menata raga
bimbing aku kembali mengasah jiwa
agar kuraih lagi pesona
tuk kembalikan cintanya

amin.....

Sunday, August 30, 2009

IJINKAN AKU MENATA DIRI DENGAN RIDHOMU


kususuri jalan setapak
dengan lunglai langkah yang tak kusadari
hanya debu jalanan yang kadang menggugah lamunanku
menepis wajah sedih yang tertutup kusam
tak kudengar lagi deru mobil
tak kudengar lagi klakson motor
bahkan tak kuhiraukan lelehan keringat hangat di sekujur tubuhku
tak kurasa lelah kaki melangkah
hanya kalut yang membungkus raga
hanya limbung yang menghias jiwa
bukan karna tak ada lagi taxi yang bisa membawa diriku
bukan pula tak ada busway yang mampu menghantar niatku
hanya hampa yang ada di rasa
tak tahu lagi kemana kaki ini membawa raga

mata ini terkesiap
saat kudengar deru bajaj yang memekakkan telinga
saat itu kutersadar
kokoh berdiri sebuah warung kecil di depan mata
entah mengapa tanpa kata kumasuki warung itu
kududuki bangku panjang kayu coklat yang kosong tak berpenghuni
sejenak ku terdiam tak tahu apa
sejenak ku terpana tak tahu mengapa
hanya seorang bapak renta yang melihatku penuh tanya
ah... aku lupa
mungkin bapak itu melihat lelehan air mataku yang lupa kuseka
tapi akupun tak tahu kenapa ada lelehan itu
akupun tak mengerti kenapa tak kuseka pula
yang aku tahu, hanya luka yang kian lama kian menganga
tak ada lagi kata sejenak
bapak itu memanggilku dengan halus
"nak... mau minum atau makan?"
terkesiap aku karenanya
mendadak aku bingung
mendadak aku linglung
mengapa aku berada di sini?
siapa yang menuntun langkahku ke sini?
tapi aku harus menjawab tanya
"bapak, tolong beri aku minuman hangat"
"agar air kembali suamkan hatiku yang mendadak beku"
tak kudengar lagi tanya
hanya tatapan mata aneh bapak itu tertuju padaku
tak kuasa lagi kuungkap kata
hanya jari telunjuk ini mengarah pada sesuatu
sebuah botol berwarna bening dengan isi cairan berwarna emas

sejenak angin bagaikan terhenti
terlintas tanya dalam hati
benar itukah yang kukehendaki?
ah, aku tak peduli lagi
aku hanya ingin sejenakl lupa
dengan segala derita yang baru saja menimpa
kembali aku terkesiap
suara denting gelas beradu dengan botol yang berada tepat di depan mata
tak kutahu bagaimana kedua benda itu sudah ada dalam genggamanku
sebagaimana ketaktahuanku akan minuman yang kuteguk
pahit terasa...
panas kurasa...
tak pernah kutemukan minuman seperti ini sebelumnya
tak pernah pula kuteguk minuman seperti ini sebelumnya
hanya tanda tanya yang ada di dada
kenapa air ini kini menyayat kerongkonganku

kuhentikan sejenak tegukan kasar yang tak pernah kulakukan
kembali aku terdiam sekian lama
dan...
tiba2 nampak seseorang yang kabur kulihat di pelupuk mata
makin jelas...
makin nyata...
dan itu dia
kulihat matanya menangis sambil menunjuk botol yang ada di genggamanku
dan kulihat kini dia menggeleng-gelengkan kepalanya
lirih kudengar suaranya yang parau
"bukan itu cara yang tepat untuk melupakan segalanya"
"bukan itu"
"bangunlah..."
"kau tahu aku tak menginginkan kau lakukan itu"
"meski tak lagi aku perhatikanmu setelah ini"

terkesiap aku
kupejamkan sejenak mataku
tapi saat kubelalakkan mata ini, tak lagi ada dia
meski masih sempat kulihat bayangan punggungnya berjalan lunglai meninggalkanku
saat pelan kutaruh botol itu kembali ke meja
dan kurogoh dompetku
"bapak, aku bayar semuanya meski tak lagi aku mampu menghabiskannya"
"maafkan aku telah membuatmu mengandung tanya"

lunglai kembali kulangkahkan kaki tinggalkan bapak tua
hingga kudengar suara adzan maghrib
menggema dan mengajak aku tuk berbuka
ya alloh....
piluku tlah butakan aku akan puasa yang hari ini mestinya ada
sedihku tlah menutup mata hatiku akan ibadahku hari ini
semua tlah terlambat ya alloh
tlah kubatalkan ibadahku kali ini dengan sesuatu yang pasti membuatmu murka
ya alloh...
maafkan aku
ampuni hambamu
tak lagi kubuat sama dalam hidupku
dengan kesalahan dan kegagalan yang mestinya membuatku dewasa

ya alloh...
kini ijinkan aku kembali menghias wajahku dengan kalammu
kini ijinkan aku kembali menata diri dengan keindahan ridhomu
ijinkan aku ya alloh...
ijinkan aku

Sunday, August 16, 2009

MAAFKAN AKU (untuk seseorang yang kusakiti)


tak ada lagi kata yang mampu kurangkai
tuk gambarkan kepedihan yang kembali hadir
hati ini tak lagi berpalung
bagai kembara yang tak lagi berujung
sejak kauputuskan rangkaian kalung mutiara
yang melingkar indah di leherku
yang dulu kausematkan mesra
kini butiran mutiara itu berhamburan
di tanah padas kerontang
yang beberapa hari ini kering tak tersirami
meski hanya oleh setetes embun pagi hari

kasih…
kini tak kan ada lagi canda yang kudengar
tak kan ada lagi geliat manja yang bisa kutatap
hanya bulir-bulir air matamu
yang sarat dengan kepedihan
karena kesalahanku yang kembali terulang

kini hanya satu kata yang kuharapkan
kata maaf darimu atas kepedihan yang kutanamkan

kini hanya satu harap yang aku hunjukkan
kehadiran seorang pangeran
yang membimbingmu meniti jalan terang

kasih…
semoga kau tahu
embun itu kan tetap menetes di pagi hari
menyejukkan hati yang beku karna dendam

kasih…
semoga kau tahu
cinta ini tak kan pernah lekang tersaput mendung
yang memisahkan surya dan buminya

kasih…
kuingin kau tahu
bahwa aku tetap menyayangimu
apapun kau adanya

Sunday, June 21, 2009

KEKECEWAAN (untuk seseorang yang kuharapkan datang)


air mataku tak mampu lagi kujadikan benang
tuk menjahit luka yang kian lama kian menganga

senyum inipun tak lagi bisa kujadikan parang
tuk membunuh kecewa yang senantiasa ada

mungkin tak seperih ini
kala kecewa pertama kali mengetuk pintu jiwa

tapi setelah sekian ribu kali
masih adakah pintu yang bisa terbuka?

air bah kekecewaan kini tak lagi berpenghalang
saat jiwa tak berpintu enggan menghadang

kini tak lagi nalar mampu bedakan
antara pilar dan tiang
antara harapan dan kekecewaan
tersaput banjir yang kian membandang

Friday, June 19, 2009

LAYU (for someone i just left)


duh gusti...
pupus kang wingi ijo royo-royo

kini layu tan kena soroting surya
katon aking kadya godong garing tan aji guna

harapan yang kupupuk kini sirna
karna kuyakin tak mungkin ku memilikinya

duh gusti...
ing wanci ratri samangke

mungkin kau jadikan malam terakhirku
memandangi wajahnya yang lembut

karia slamet ari...
muga karaharjan tansah lumuber tumrap sliramu

PUPUS KANG SEMI (for someone i just found)


katon pupus ijo kang semi ing lemah aking
segar menyapa surya yang mengelus lembut chlorophyllnya
mung sapucuk...
di tengah luasnya rekahan tanah yang tlah sekian lama kering
ada setitik harapan kang rumesep ing sajroning galih
akan jatuhnya embun dini hari
yang kian membuatnya rindang

gusti…
mung sawiji panyuwun ingsun

jaga pupus itu hingga besar
menyuburkan tanah kering yang lama tak tersemai

gusti…
gunging panuwun ingsun dene wus peparing
sawijining jalma kang gawe gogroging ati

yang tlah lama membatu bagai padas

gusti…
mung sawiji panyuwun ingsun
katresnan sawiji tan kabanjut ing wanci rina

Monday, April 06, 2009

pagi ini...


pagi ini aku masih terbangun
pagi ini masih ada nafas yang mengalir lembut dari hidungku
pagi ini masih kurasakan sedikit sengatan matahari
pagi ini masih kurasakan dingin yang menyelinap masuk
mengelus lembut lengan
yang tertutup selimut beludru

tuhan...
masih kau ijinkan aku tuk merasakan hangatnya mentari
masih kau ijinkan aku pula merasakan pahitnya sakit hati
ataukah ini berati masih pula kau berikan harapan
tuk dia kembali?

Tuesday, March 24, 2009

tangis kerinduan


tuhan...
hari ini tak kudengar kicau riang kenari kecilku
yang tlah terbang sejak subuh tadi
saat air mata ini kering
tersaput waktu

tuhan...
kini perih itu seakan sirna
terganti nada rindu yang menyesak dada

tuhan...
tolong sampaikan pada kenari mungilku
di sini tlah kembali tumbuh ranting baru
dihiasi rimbun dedaunan yang tak lagi berdebu
agar dia hinggap bersemayam di peraduan kalbuku

tuhan...
aku rindu dia

ranting patah


dedaunan kering itu kian meranggas
satu per satu luruh ke bumi
tinggalkan ranting kering
yang selama ini menopang

tak terdengar lagi kicau burung
yang dulu senantiasa bertengger
suarakan kidung cinta

yang tersisa kini hanya ranting kering
yang kian rapuh
seiring nyanyian burung kenari
yang kian lirih tersaput halimun duka lara

dan kini ranting kering itu patah
gugur ke bumi menyayat daun kering
yang lebih dulu luruh lantak
terinjak roda pedati raja efendi
yang kian pongah menari di atas luka hati
berteman burung kenari yang merdukan bejana hati

mata ini tak juga terpejam


jam digital kecil di atas tv detiknya berjalan cepat
1.53... 1.54... 1.55.... dini hari
hingga tak kuasa kuikuti geraknya
tapi tetap juga mata ini tak kuasa terpejam
ingatanku masih juga terbayang dengan peristiwa malam tadi
keraguanku akan ucapannya
keraguanku atas pengakuannya
benarkan dia sendiri malam itu?
benarkah dia terbuai mimpi malam itu?
semuanya berkecamuk berbaur jadi satu dalam benakku
membuat mata ini semakin terpicing
meski berat badan ini menyangga penat
kucoba rebahkan tubuh lelah ini
namun ingatanku kembali ke tempat itu
dimana dia terbaring pulas
tanpa kutahu kebenarannya
tanpa kutahu benar tentang kesendiriannya
harus begitu mudahkah aku mempercayainya?
setelah trauma itu menghiasi luka?
setelah kutahu masih ada bayang orang ketiga?
ah....
mata ini semakin kabur
tersaput derasnya air mata yang perih mengalir
akankah keraguan ini tetap akan bersemayam?
ah....
biarlah
biar aku coba tuk pejamkan mata
toh sakit hati ini tak juga mau pergi
meski kuharus merajut mimpi
waktu jua nanti yang akan membuka mata hati
bila benar cintanya menyuapi dendam
atas derita yang pernah dirasakan olehnya
yang tak seharusnya terlampiaskan pada diriku

Monday, March 23, 2009

terpenjara


hati ini kian terpenjara
oleh luka yang kian menganga....

sepi


sepi...
tak ada lagi desah nafasku terdengar meski lirih
tak ada lagi kata yang bisa mengungkap sedih
yang tetap bersemayam di hulu hati

tuhan...
beri lagi aku kekuatan
beri lagi aku ribuan aksara
agar aku bisa merangkai kata
tuk ungkapkan duka
menjadi sebuah lencana
yang kan kusematkan padanya
sebagai kiasan cinta yang tak pernah tersampaikan
karena cinta ini akan tetap terbalut keraguan

kabut keraguan


sore ini kabut kelam menghalang cahaya surya
yang siang tadi menghangatkan jiwa ini
sebagaimana keraguan yang tiba-tiba kembali menyeruak
membungkam mulut ini
yang hendak menyuarakan kata "aku sayang kamu"

tuhan...
kenapa kembali kau hadirkan keraguan di hati ini?
adakah trauma masa lalu kembali menghantui?
ataukah benar adanya keraguan akan ketulusan hatinya
yang berikrar membungkus luka hati yang pernah ada?

tuhan,
beri aku kekuatan
untuk menghadirkan sosok itu nyata di kelopak mata
yang benar-benar ada
yang benar-benar mencinta
tanpa harus ada duka lagi
tanpa harus ada yang kedua lagi

tuhan...
ijinkan aku menyingkap kabut
dan menjadikan hangat mentari selimut peraduan cinta

tuhan... ijinkan aku

setitik cahaya


tuhan,
ternyata kau maha tahu...
kau lihat air mata ini mengucur deras dari pelupuk mataku
ternyata kau maha mengerti...
kau pahami tetes darah mengucur deras dari luka hatiku
ternyata kau maha kuasa...
kau bukakan lagi hatinya tuk lupakan dia
ternyata kau maha adil...
kau kirimkan lagi dirinya ke dalam dekapanku
ternyata kau maha bijak...
kau berikan setitik cahaya asa di kehidupan cintaku

terima kasih tuhan...
jangan lagi kau renggut dirinya dariku

sendiri


tuhan...
tlah kau jawab doaku
yang kuhunjukkan sekian lama
kau hadirkan seseorang yang kembali membuatku sadar
akan arti mencintai dan dicintai

mata itu begitu teduh menatapku setiap saat
senyum itu begitu agung mendamaikan hatiku yang dulu hampa

tapi tuhan...
kenapa kedamaikan itu hanya kau berikan sesaat?
kau renggut lagi dia dariku
hanya karena dia tak kuasa lupakan kekasih hatinya terdahulu

tuhan...
haruskah siksa cinta jadi takdir hidupku?
tak lagikah bisa kurenggut kebahagiaan dari seseorang
yang benar-benar mencintaiku tanpa harus mendua?

ah....
mungkin aku memang tertakdirkan sendiri
ah....
mungkin aku memang tak berhak mencintai
ah....
mungkin aku memang tak berhak dicintai

mmmmmmmm....
kini kuputuskan tuk sendiri lagi

Monday, March 16, 2009

bimbang


tlah kuhabiskan hari-hariku dengan pekerjaan yang menggunung
tlah kuhabiskan minggu-mingguku dengan aktifitas yang menumpuk
tlah kuhabiskan pula bulan-bulanku dengan kesendirian
hingga kemaren-kemaren aku terlupa
dengan rasa perih yang pernah bersemayam

tapi pagi ini ada luka yang perih
rasa kehilangan itu kembali hadir
saat kubuka facebook dan kupandangi fotonya

mata itu masih tetap teduh
paras itu tetap menampakkan kesabaran
senyum itu tetap pula membenamkan aku dalam tumpukan embun

ah....
kenapa pula aku harus mengingat dia tuhan?
bisakah kau tepiskan wajah dia dari pelupuk mataku?
bisakah kau hilangkan senyum teduh dia dari ingatanku?

aku tahu kau maha bisa
aku tahu kau maha kuasa
tapi kenapa tak kau lakukan itu tuhan?
kenapa tak kau hilangkan sosok dia dari ingatanku?
ataukah kau hanya menguji kesabaranku?
hingga masa kau hadirkan lagi dia dalam pelukku?

ah....
mungkin itu hanya ilusi kesendirianku
ah....
mungkin itu hanya percikan harapanku yang masih tersisa

tuhan....
kalau memang tak kau ijinkan aku bersamanya
ijinkan aku melupakan dia

ah....
tapi kenapa masih juga ada senyum kesabaran dia
saat mata ini terbuka?

tuhan....
tolong tepis rasa bimbang ini

Wednesday, March 04, 2009

pupus


kali ini tak secuil kata bisa kutoreh
jari ini kelu
bibir ini beku
hanya luruh air mata
basahi kertas putih tanpa makna
perih...
tak lagi mata terkatup membendung luka
yang mengalir deras dari mata batinku
pupus sudah asa yang kubangun
dari raupan carang berduri
yang tersisa hanya darah kering
tergambar jelas di atas jangat tubuhku

Saturday, February 14, 2009

sekeping hati sunyi


masih sarat kata yang tak kuasa terungkap
masih sarat tanya yang belum terjawab
bukan karena tak ada lagi hasrat
tapi lidah ini kelu
tapi lidah ini kaku
menahan kata yang kutawarkan
menahan nafas yang kuhembuskan

masih banyak bahagia yang ingin kuberi
masih banyak derita yang ingin kubagi
bukan karena tak ada lagi nyali
tapi semua menjauh pergi
tapi semua seakan benci
mencari lagi teman sejati
mencari lagi gantungan diri

tuhan,
akankah kau biarkan aku sendiri
merajut mimpi yang tak mungkin terjadi?

keping hati ini tak lagi ada
keping hati ini terserak
keping hati ini sunyi

di penghujung usiaku


kerut di wajah ini kian sarat
tulang di tubuh ini kian rapuh
ketampanan ini tak lagi nampak
meski kusadar tak kumiliki sejak dulu

air mata tak lagi deras mengalir
kering...
sedu sedan kesedihan tak lagi lantang
parau...
hanya jerit hati lirih
terbalut kidung sepi dawai kecapi

kini kian kusadar
meski sejak dulu tlah kusadari
tak lagi ada tawa riang sahabat
tak lagi ada canda ria kekasih

semua menjauh
seiring melemahnya nafas ini
kematian yang menjemput

ya rob...
masih akankah kau biarkan aku sendirian
di sisa usiaku?
tak akankah kau kirimkan seseorang
sebagai teman di sepenggal sisa usiaku?
tak akan lagikah kau berikan sejumput 'hak' bagiku
untuk mencintai seseorang?
tak bisa lagikah kau berikan rasa belas kasih
pada seseorang yang bisa mencintai aku dengan tulus?
atau akankah kau kirimkan sepi di penghujung hidupku?

ya rob...
kalaupun itu kehendakmu
ijinkan aku memohon satu padamu
hanya satu...
kirimkan dia di sisiku
seseorang yang mengasihi aku
saat nafas akhir perlahan terhembus
meninggalkan ruang di jasadku

ya rob...
ijinkan aku melihatnya tuk terakhir kali
ijinkan aku ya rob...

Tuesday, October 14, 2008

kembali aku berbohong


hari ini kembali aku harus membohongi sahabat-sahabatku
saat mereka bertanya:

“does your blog reflects your true life?”
“was it what you feel”
“did you write the truly moments in your life?”


dan masih banyak lagi tanya di kepala mereka
yang terlontar dari bibir mereka yang bergetar penuh belas kasih

mereka berpikir itulah jalan hidupku
mereka berpikir itulah kebenaran yang aku sandang
mereka berpikir itulah takdir yang aku lakoni
mereka berpikir itulah suratan yang tak pelak harus aku jalani
mereka berpikir
dan mereka terus berpikir

saat itu aku hanya menebar senyum
saat itu aku hanya menebar tawa

"hahahahahahahahaha……"

kutampakkan wajah ceria di hadapan mereka
kusimpulkan senyum canda ria di depan mereka
namun kusembunyikan luka yang menganga
saat bibir ini membentuk kurva ceria
semakin kupaksakan senyum itu ada
semakin tajam sembilu itu menoreh luka

“ah… itu kan hanya sebuah karya”
“ah… itu kan hanya serangkaian kata”
“mungkin aku tak pandai merangkai kata bermakna bahagia”
“mungkin aku lebih lincah menorehkan pena duka di atas kertas”
“mungkin aku…”
“ah… lupakan saja”
“baca saja semuanya seolah bukan aku yang membuatnya”


kulihat masih ada tersirat tanya di benak mereka
masih sarat kebimbangan di mata mereka atas jawabku
tapi itulah yang kumau
tak ingin kubagi dukaku dengan mereka
tlah cukup mereka bahagiakan aku dengan keberadaan mereka
tak lagi ku ingin buat mereka semakin terbebani olehku
biarlah hanya blog ini yang tahu
apa yang sebenarnya aku rasakan

Sunday, October 05, 2008

aku hanya sekali


aku terus mancari…
arti diriku, makna keberadaanku di atas bumi
peranku sebagai manusia dan juga sebagai pribadi
aku mencari ke tempat mentari terbit hingga ke negeri mentari terakhir tenggelam
aku ada dimana keberadaanku diinginkan dan kedatanganku ditunggu
kadang aku menyesaki tempat dimana tak seharusnya aku berada
di tempat dimana tak seharusnya aku berdiri
kadang aku merasa hidupku hanya untuk diriku
keberadaanku hanya untuk diriku
tapi apa makna terdalam yang dapat digali dari manusia seperti aku
pengharapan terbesar apa yang dapat aku berikan bahkan untuk diriku sendiri
aku hanya penunggu waktu
bagai pohon yang berdiri di atas tanah rapuh
berakar serabut dan menunggu tumbang
bahkan aku tak seperti pohon pisang
walaupun sekali hidup tapi dapat beranak pinak
aku hanya sekali…
sel diriku tak dapat membelah
tak ingin membelah atau tak siap membelah
aku telah berusaha membelahkan diri
dan sekarang aku sedang tidak dalam masa berusaha lagi
pernah dulu dan gagal
belahan itu menyisa dalam dada
dan dengan sekuat tenaga aku menyebutnya bukan luka
walaupun jelas-jelas itu adalah sebuah luka yang menganga
tapi bukankah setiap manusia mempunyai lukanya sendiri-sendiri
dan kadang kita terlalu mendramatisir luka itu
padahal itu tak sedalam yang kita kira
luka itu datang dengan caranya
dan dia sembuh dengan caranya pula
malam ini aku tak ingin tidur karena memang tak mengantuk
tak ingin bersusah hati karena kurasa sudah cukup
tak ingin tertawa karena tak ada yang pantas membuat kutertawakan
tak ingin tampak bersedih karena tak ada guna
malam ini hanya aku dan malam
hanya aku dan laptop ini
hanya aku dan segala hal di sekelilingku
aku hanya merasakan sepi seperti ini
sepi di tempat yang paling aku cintai
sepi dimana aku bisa meringkuk kesepian dalam kesenangan
dapat merasakan aroma masa lalu dan masa datang berkumpul menjadi satu
makna diri…
kekhawatiran…
rasa iri…
kegagalan…
bukan harapan…
aku hari ini,
dan esok entah apa lagi…

lamunan yang terdalam


senyuman yang membuatku terpana
harapan yang membuatku tersenyum
di sana kau lambaikan penuh pesona
menari di atas kebahagiaan menampak
aku yang di sini rasakan hangatnya pancaran auramu
membuatku semakin mengumbar senyumku untukmu…
anganku membumbung…
tercurah pada puncak perasaan
aku terkulai…
aku trenyuh…
pada kemurnian hadirnya dirimu…

nyanyian jiwa


dalam lubuk jiwaku ada nyanyian tanpa kata
sebuah lagu yang hidup dalam benih di hatiku
ia menolak untuk mencair dengan tinta dalam perkamen
ia menelan kasih sayangku dalam mantel dan arus transparan
tetapi tidak pada bibirku
bagaimana aku mendesahkannya?
aku takut ia dapat bersatu dengan udara keduniawian
untuk siapa aku menyanyikannya?
ia tinggal dalam rumah jiwaku
dalam ketakutan terhadap kerasnya telinga
ketika aku memandang mata dalamku
aku melihat bayangan dari bayangannya
ketika aku menyentuh ujung jariku
aku merasakan getarannya
perbuatan tanganku memperhatikan kehadirannya
seperti sebuah danau harus memantulkan bintang berkelip
air mataku menyingkapnya
bagai tetesan terang embun menyingkap rahasia mawar layu
ini adalah nyanyian yang diciptakan dengan perenungan
dan diutarakan oleh kesunyian
dan dihindari oleh hiruk pikuk
dan dilipat oleh kebenaran
dan diulang oleh mimpi
dan dimengerti oleh cinta
dan disembunyikan oleh bangun
dan dinyanyikan oleh jiwa
inikah nyanyian cinta
apakah cain atau esau dapat menyanyikannya?
apakah ia lebih harum daripada melati
suara apa yang dapat memperbudaknya?
inikah ikatan hati
seperti rahasia seorang perawan
senar apa yang dapat menggetarkannya?
siapa yang berani menyatukan deru lautan
dan nyanyian burung bulbul?
siapa yang berani membandingkan jeritan prahara dengan desahan bayi?
siapa yang berani mengatakan dengan keras kata-kata yang dimaksudkan untuk hati agar bicara?
manusia apa yang berani menyanyikan dalam suara nyanyian tuhan?

(courtesy of kahlil gibran)

Sunday, September 28, 2008

sayat kekecewaan


biarkan aku tertatih sendiri dalam pelarianku
kini luka kubawa pergi menuju keheningan malam
tak ingin kubawa lukaku tuk kutorehkan pada siapapun
bahkan kepada malaikat bercahaya sekalipun
karna perih sudah hatiku tersayat kekecewaan

Friday, September 26, 2008

sayap patah


sejenak aku berhenti di persimpangan hati
aku lihat daun-daun berguguran
arahku tak tentu tertuju
tak satupun hati yang mampu memberiku peta harapan
aku termangu
lalu kurakit sayap patah dengan air mata dan penyesalan
dan akupun terbang
terbang
dengan tertatih akupun terbang
kubawakan kado spesial untukmu
kubungkus dengan kejujuranku
berisi jutaan tanya yang tak terjawab

jika aku


jika aku dapat menarik pelangi
aku akan membentuk namamu
kan ku kembalikan ke langit
agar semua orang tahu
betapa bahagianya aku pernah memilikimu

Wednesday, September 24, 2008

cinta tiada usang


maka mesti kau tahu
aku tak akan pernah lupa
akan kesempurnaan hatimu
yang nyaris meminangku dalam ikatan
dengan cinta yang tak akan usang termakan usia...

Friday, September 05, 2008

masa itu


pagi ini matahari menyengat dada telanjangku
lewat celah kelambu yang sedikit tersingkap
ada warna merah kehitaman membekas
mungkin sudah terlalu lama sengatan itu berusaha membangunkanku

kulihat jam kecil di atas lemari es
masih kabur mataku untuk melihat titik-titik angkanya
samar terlihat jam delapan lewat sedikit, aku tak tahu tepatnya

Mmmmmmm...
Aku masih berpikir, ah... sepuluh menit lagi
kembali aku pejamkan mataku
kutarik lagi selimut beludru coklat yang tadi tersingkap
tapi belum sempat lelap itu datang,
sontak aku terperanjat
seperti kudengar suara ibuku berkata serak

"tangi le... ayo...
srengengene wis munggah duwur kuwi lho
bocah kok kebluk angel gugah-gugahane!"


suara itu benar-benar seperti nyata
tapi aku masih juga ragu
ah... itu hanya halusinasiku
beberapa hari ini aku memang selalu teringat ibu
mungkin karena aku kangen dia
dan kembali aku coba pejamkan mata
tapi lagi-lagi suara itu datang
dan kali ini lebih lantang

"dasar bocah kebluk!
digugah pisan pindho ora menyat lha kok malah mlungker
dak guyang banyu atis lho mengko yen ora gelem tangi!"


aku merasakan ada cipratan air dingin ke mukaku
brrrrr... dingin...
dan itu berhasil membangunkanku
ingatanku benar-benar kembali ke masa itu
masa kecil dimana ibu selalu membangunkan aku tiap pagi
menyiapkan baju sekolah dan sarapan pagiku
kepalan nasi hangat seperti bola beroleskan abon dan garam
kemudian mengantarku berangkat hingga di depan pagar rumah
ah...
aku rindu masa-masa itu

ibu...
andai waktu itu kamu tak membangunkanku tiap pagi
aku pasti akan selalu terlambat ke sekolah
dan aku tak akan jadi orang pintar
aku juga tak akan bisa mendapatkan pekerjaan layak
hingga aku tak lagi bisa mencari uang untuk hidupku

mmmmmmm...
sekarang aku punya pekerjaan layak
sekarang aku bisa makan enak
itu karena kamu, ibu...
aku sayang kamu...
aku kangen kamu...

Thursday, September 04, 2008

hujan


pernah satu kali ibu berkata padaku
"anakku...
bila hujan besar turun
cobalah untuk keluar
hitung dan rasakan titik air hujan yang jatuh dari langit
sebab sebanyak itulah aku menyayangimu..."

aku rindu kamu, ibu...


aku lihat ibu duduk membelakangiku sore itu
punggungnya agak membongkok ke depan
sesekali beban itu seperti hendak jatuh ke pangkuan
tapi kulihat ibu berusaha kembali menengadah
menyangga tubuh rentanya
dengan tangga yang tersusun dari helaan nafasnya

aku hampiri dia
kulihat ada genangan air mata di sudut kedua matanya
mestinya tak perlu lagi aku bertanya kenapa
karena seringkali aku lihat ibuku menyulam duka
tapi kali ini sungguh beda
ada keinginan kuat untuk membuka mulutku dan bertanya
"ibu, kenapa ibu menangis lagi?"

kini ibuku seperti tak kuasa lagi menahan tubuh rentanya
akhirnya tubuh kurus kering itupun terkulai di sandaran tangan kursi tua
tak sedikitpun kudengar suara
hanya desah nafas yang kian lama kian meronta

kembali aku tanya "kenapa bu?"
tapi tak juga kudengar suara
hanya butiran air bening yang makin deras mengalir dari kedua kelopak matanya
dan kini kedua mata itu menatapku
ada kepedihan di dalamnya
ada kerinduan di tatapannya

hening sejenak
hanya terdengan desahan nafas ibu yang kadang tersengal
aku tertunduk kelu
tak kuasa aku tatap mata ibu seperti itu

tiba-tiba kudengar suara parau
"aku kangen kamu anakku..."
"aku sayang kamu anakku..."


terkesiap aku mendengarnya
sering sudah aku mendegar kata-kata itu dari bibirnya
tapi kali ini sungguh beda
ada getaran teramat dalam dari suaranya
dan kali ini aku benar-benar peduli
ibuku merindukan kehadiranku
ibuku menyayangiku

tak kuasa lagi aku menahan airmata yang sejak tadi kutahan
kurengkuh tubuh renta itu
kupeluk erat
dan kubisikkan kata-kata yang sama di telinganya
"aku juga kangen ibu..."
"aku juga sayang ibu..."
"maafkan aku ibu, karena terlalu sering meninggalkanmu..."

Wednesday, September 03, 2008

lakuku


lakuku ing wengi iki
sasat aji godhong jati aking
kang keplindhes rodhane para durjana
utawa kepidak sepatu lars-e mantri alas
ya swaraku kang muntel sak dawane gurung-gurung
kebentus sandhung kepapak pongahe watu item
ambegugug ngutho waton, nutupi dalane pangrungon

o, laku, laku lelakon
apa isih ana wigunane
nrabas wengi nyabrang iline wayah
yen rowang-rowang disanak dikadang
mung apepindho macan galak saka sabrang
ee….., ora ………..!
iku mau dudu macan
dudu sardulo, dudu sima
amung tikus kang keplayu kecirit keprungu swarane manuk tunggak

citcitcuit………..citcitcuit………..crit…..crit….!

nanging tikus saiki anggilani
nganggo topeng macan, klambi kebo utawa jaran
nanging tikus saiki wus kuwasa
linggih methingkrang sakdhuwure dampar kencana
nyebar sabda, tigas gulune para kawula

banjur lakuku wengi iki netepi garising lelakon
mung bisa jumangkah alon-alon
sinambi nembang tembange bocah angon
sanadyan ora bisa kanggo kaca pengilon

Monday, September 01, 2008

tentang "semoga"


aku adukan semua dosa yang telah aku perbuat setahun belakangan ini.
aku menyerahkan diri, seperti anak yang bertemu dengan orang tuanya.
aku katakan bahwa aku menyesalinya dan sudah berusaha untuk menyudahinya,
tapi kembali gagal dan gagal.
aku katakan pada awal ramadhan ini, berharap ada setitik petunjuk atau sinar terang atau apalah namanya.

aku datang dengan segala lumuran itu, dan memang ternyata itu dosa.
aku tak tergagap untuk mengakuinya dan aku merasa di pihak yang bersalah.
bukan pengertian yang aku harapkan, mungkin ampunan dan belas kasihan serta ada keajaiban sebagai jalan keluar.
otakku sudah buntu memikirkannya karena sedari dulu kucoba mencari celah untuk mengurai benang kusut dan menemukan simpul silang sengketanya.
tak dapat.
aku gagal, mungkin karena aku bodoh.
ternyata...
tak lepas aku darimu, tapi itu bukan jaminan bahwa kita dekat.
tak juga jaminan bahwa aku bisa mencari sendiri jawabannya.

rahmatmu sudah membawaku ke usia yang cukup matang.
dan berkahmu sudah pula melimpahkan aku rezeki yang cukup layak.

aku tak sengsara sebagai manusia.
secara lahiriah aku merasa berkecukupan.

tapi...

maaf kalau selalu ada kata 'tapi'.

ingin kutukar semua kebahagiaan lahiriah ini dengan satu syarat,
ridhomu atas langkahku.

ketika aku menjalankan hidupku sebagai diriku.
sekali lagi, ketika aku menjalankan hidup sebagai diriku...
ketika itu aku merasa di sana tak ada ridhomu.
terkadang aku merasa kau sedang memperhatikanku dan geleng-geleng kepala dengan semua yang aku lakukan.
aku semakin hitam dan tenggelam, tersesat dengan hidup yang aku pilih itu.

malam ini aku adukan, kembali aku menghadap.
seperti laporan rutinitas tahunan.
karena aku pikir sholatku seolah hanya sebagai absensi bahwa aku mengatakan 'hadir', lalu aku bisa bertindak bebas dan sesuka hatiku lagi sesudah itu.

terkadang aku sangsi, apakah masih ada celah terbuka buat memaafkan aku.
80% jawaban hatiku mengatakan masih.
suara di hatiku beralasan "tuhanku maha pengasih dan penyayang".

tapi kadang aku memanfaatkan gelar 'pengasih dan penyayang'mu itu.
aku jadikan itu sebagai alibi untuk segala perbuatan itu.

sekali mungkin kau akan memaafkan.
tapi dua, tiga dan berpuluh kali, masihkan tuhan itu maha pengasih dan penyayang terhadap umatnya yang membangkang?
semoga aku mempunyai tuhan yang kadar rasa penyayang dan pengasihnya tak terbatas.
tapi tetap ada perasaan tidak enak, ada perasaan jengah, enggan dan malu.
bayangkan, kalau engkau melakukan kesalahan.
sekali akan dimaafkan, lalu kedua kali.
tapi ketika berkali-kali engkau lakukan, lalu duduk bersimpuh menyesali, bukankah yang memaafkannya akan mengutuk?
semoga tidak...
dan memang hidupku akhirnya bergantung kepada kata 'semoga'.
pertama:
semoga tuhanku tak pernah lelah memaafkan aku.
kedua:
semoga tuhanku membukakan jalan untuk penyelesaian semua itu.
ketiga:
semoga jalan itu adalah penyelesaian terbaik yang membuatku bahagia dan dapat diterima olehnya.

semoga...

Wednesday, August 27, 2008


salahkah aku bila berkata
sebuah lagu yang indah
mengalir dari hati terdalam
walau dengan suara yang sumbang memekakkan?
dan bukan dari suara berpelangi
dengan hati yang berisi hampa

seperti itulah aku memelukmu
memeluk hatimu
dengan pori jemariku yang kasar
dengan peluh dalam perjalanan hari-hariku
demikianlah aku bernyanyi untukmu
tentang kasih dan sayang
tentang tulus dan ikhlas

tak perlu kau bersajak
merangkai bintang dan rembulan
menyemaikannya dalam sehampar langit purnama
dan mengukir awan di setiap sudutnya
untuk membingkai rasa yang kau sebut cinta

karena aku tahu
dalam diammu engkau bersenandung
menghembuskan jutaan cahaya
yang menjadikannya indah
walau itu hanya sebentuk sentuhan sederhana

karena aku tahu
kau mencintaiku

(courtesy of someone)

aku tahu...
ada setitik rindu yang sulit kumengerti
kau simpan di sudut matamu yang berbinar itu
namun tak bisa menangkap perih yang kusembunyikan di dasar hati
cukup kutahankan luka dan kita tak lagi bertegur sapa
jangan katakan apapun tentang aku
seperti malam yang tergesa-gesa pergi
sedang aku belum selesai bermimpi

di wajahmu kutanamkan sinar mentari
dari sisa pagi yang mengambang
dalam ketidaksadaran, kulepaskan tanya
siapa yang mengambil matahariku itu?
sehingga malam yang kutemui tersisa hampa

sinar matahariku...
kaulah resah itu untukku
kaulah sunyi itu untukku
kaulah cerita kecil itu

merpati putih yang terbang mengawan
tak mungkin kupanggil pulang
takdir dan suratan
kutulis di wajah matahari
matahari yang kini kutinggalkan
di persimpangan

(courtesy of someone)

o engkaulah gulita yang memupuskan segala batasan dan alasan...
engkaulah penunjuk jalan menuju palung kekosongan dalam samudera terkelam...
engkaulah sayap tanpa tepi yang membentang menuju tempat tak bernama namun terasa ada...
engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal hidup...
engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara...
engkaulah matahari firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara...
kau hadir dalam ketiadaan...
sederhana dalam ketidakmengertian...
gerakmu tiada pasti...
namun aku masih di sini...
mencintaimu...
entah kenapa...

(courtesy of someone)

Tuesday, August 26, 2008

cinta terpupus duka


aku akan memupus rasa tak menyisa duka
akan kubagi cinta untuk menguras isi jiwa
jika cinta sejati tak ada
biarkan aku mencintai yang ada

maafkan aku


maafkan aku
atas jiwa kelam hampa
akulah pelaku luka hatimu
maka dakwalah aku
dengan marah yang kau ucap
bukan bungkam yang kau ungkap

cinta tiada usang


maka mesti kau tahu...
aku tak akan pernah lupa akan kesempurnaan hatimu
yang nyaris meminangku dalam ikatan
dengan cinta yang tak akan usang termakan usia...

selamat tinggal kasih


aku mencarimu ketika senja mulai menggantung di sisi langit
ketika celoteh camar tak kudengar lagi
dimanakah engkau?
ingin dirimu kubuai dengan bahasa geliat sang malam
kucumbu bayangmu sesaat
karena sebentar lagi kujauh darimu
jauh dari duniamu
selamat tinggal kasih...

asa


berlarilah dalam duniamu
gapai semua yang pernah ada dalam mimpi-mimpi indahmu
biarlah kenangan buruk kemaren luruh di tanah kering berdebu
sebab esok janjikan bougenville yang bermekaran dengan seribu warna
yang menghiasi sisa hari-harimu

kasih


kasih...
ketika senja merapat di batas malam...
dan kidung kesunyian menghantar sepimu...
adakah terlintas bayangku di malam-malammu...?

kuingin mencintaimu...


kuingin mencintaimu dengan sederhana...
yang tak sempat dikatakan api kepada kayu
yang menjadikannya abu...
kuingin mencintaimu dengan sederhana...
yang tak sempat dikatakan awan kepada hujan
yang membuatnya ada...
tapi tak ingin kemenganggapmu sederhana